Kepulauan Riau (KPw BI Kepri) mencatat laju inflasi daerah pada Mei 2026 melandai menjadi 0,38 persen secara bulanan (month-to-month), turun dibandingkan capaian April 2026 yang tercatat sebesar 0,43 persen. Secara tahunan, inflasi Kepri berada pada level 3,92 persen (year-on-year).
Kepala KPw BI Kepri Rony Widijarto menjelaskan bahwa tekanan harga pada Mei 2026 didorong terutama oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami kenaikan 1,27 persen secara bulanan, dengan andil sebesar 0,37 persen terhadap inflasi umum. Kenaikan harga komoditas seperti cabai merah, tomat, sawi hijau, dan ketimun menjadi pemicu utama, seiring berakhirnya masa panen raya di wilayah Sumatera bagian utara. Waspadai Faktor Risiko ke Depan Memasuki Juni 2026, KPw BI Kepri turut mewaspadai sejumlah faktor pendorong inflasi lanjutan, termasuk potensi dampak cuaca ekstrem yang diprediksi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Bank Indonesia bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kepri berkomitmen memperkuat sinergi lintas sektor untuk menjaga stabilitas harga hingga akhir tahun. Sejumlah langkah strategis yang disiapkan antara lain peningkatan produksi pangan lokal, pelaksanaan operasi pasar murah, penguatan kerja sama antardaerah (KAD), serta koordinasi pengendalian inflasi yang lebih intensif, dengan target inflasi tahun 2026 tetap terjaga pada rentang sasaran 2,5±1 persen. Relevansi bagi Pengelolaan Keuangan Daerah
Stabilitas inflasi memiliki keterkaitan erat dengan pengelolaan keuangan daerah, khususnya dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan belanja kebutuhan pokok daerah. Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Provinsi Kepulauan Riau turut memantau perkembangan inflasi sebagai salah satu indikator dalam mendukung perencanaan fiskal daerah yang responsif terhadap dinamika ekonomi masyarakat.